Transformasi Lahan Sempit di Lapas Banyuwangi, Dari Brandgang Tak Produktif Jadi Lumbung Sayur Transformasi Lahan Sempit di Lapas Banyuwangi, Dari Brandgang Tak Produktif Jadi Lumbung Sayur (foto: Doc.Istimewa/Bratapos.com)
Bratapos / Daerah

Transformasi Lahan Sempit di Lapas Banyuwangi, Dari Brandgang Tak Produktif Jadi Lumbung Sayur

Terbit : 06-May-2025, 19:09 WIB // Pewarta : Kacab Semeru, Editor : Kacab Semeru // Viewers : 177 Kali

 

BANYUWANGI || Semeru.bratapos.com – Komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi dalam mendukung program ketahanan pangan nasional kembali membuahkan hasil. Pada Selasa (6/5/2025), Lapas berhasil memanen kangkung hasil budidaya warga binaan yang dikelola secara intensif di lahan brandgang yang sebelumnya tidak produktif.

Panen ini menjadi simbol transformasi, bahwa lahan sempit di lingkungan pemasyarakatan pun mampu disulap menjadi sumber pangan berkualitas tinggi melalui pengelolaan yang kreatif dan berkelanjutan.

Kepala Lapas Banyuwangi, Mochamad Mukaffi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya bagian dari upaya mensukseskan program ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden dan Kementerian Hukum dan HAM, tetapi juga bagian dari strategi pembinaan warga binaan yang menyentuh aspek kemandirian ekonomi.

“Ketahanan pangan adalah prioritas nasional. Di Lapas, kami berkomitmen mewujudkannya dengan cara memberdayakan warga binaan melalui pelatihan pertanian. Hasilnya tidak hanya sayur-mayur yang bermanfaat, tapi juga keterampilan hidup yang kelak bisa mereka bawa setelah bebas,” ujar Mukaffi.

Program budidaya kangkung ini dijalankan dengan pendekatan pembinaan yang sistematis, mulai dari pelatihan teknik pertanian sederhana, pemanfaatan pupuk organik, hingga manajemen panen. Hasilnya adalah kangkung segar yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur Lapas, tetapi juga berpotensi dipasarkan lebih luas.

Mukaffi menambahkan, bahwa keberhasilan panen kali ini menjadi langkah awal untuk pengembangan komoditas lainnya seperti bayam, sawi, dan cabai. Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program ini sebagai bagian dari model pemasyarakatan produktif dan berdaya guna.

“Ini adalah bukti, bahwa pembinaan warga binaan bisa berjalan seiring dengan kontribusi nyata terhadap bangsa. Kami ingin mereka keluar nanti bukan hanya sebagai mantan narapidana, tapi sebagai manusia baru yang punya bekal keterampilan dan semangat hidup,” ungkapnya.

Ke depan, Lapas Banyuwangi menargetkan pengembangan program pertanian terpadu berbasis lahan terbatas, termasuk budidaya hidroponik dan peternakan skala kecil, sebagai bagian dari grand design pembinaan dan kemandirian.

Dengan capaian ini, Lapas Banyuwangi tidak hanya menjalankan fungsi pemasyarakatan, tetapi juga menjadi motor kecil pembangunan, sekaligus teladan dalam memanfaatkan setiap jengkal tanah demi kemaslahatan bersama. (rag/bp-bwi)


Pilihan Untukmu