BANYUWANGI || Semeru.bratapos.com – Sebagai bagian dari tradisi tahunan, masyarakat sekitar Masjid Baitussalam Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi, kembali menggelar "Khataman Al-Qur’an" di penghujung bulan suci Ramadan 1446 Hijriah. Acara sakral ini berlangsung pada Jum'at (28/03/2025) malam, ba’da sholat tarawih, sebagai puncak dari rangkaian tadarus yang telah berlangsung sepanjang bulan suci Ramadan.
Kegiatan tadarus ini dilaksanakan dengan sistem bergilir antara warga setiap RT dan remaja masjid, yang semakin mempererat kebersamaan serta semangat dalam beribadah. Sepanjang bulan Ramadan, tadarus Al-Qur’an digelar secara rutin setiap malam hingga berhasil menuntaskan tiga kali khataman.
Sebagai puncak dari kegiatan tersebut, diadakan acara tasyakuran yang dihadiri oleh seluruh jamaah, jajaran pengurus takmir masjid, serta tokoh masyarakat setempat.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan kehadiran KH. Achmad Siddiq, S.Ag, M.HI., atau yang akrab disapa Gus Siddiq, yang merupakan Ketua Ta’mir Masjid Baitussalam sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwari.
Dalam tausiyahnya, Gus Siddiq menekankan betapa istimewanya para pembaca Al-Qur’an. Menurutnya, mereka adalah golongan yang dirindukan oleh kitab suci Al-Qur’an. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menguraikan empat tingkatan pembaca Al-Qur’an, yaitu:
1. Qori’ul Qur’an – Orang yang membaca Al-Qur’an tetapi masih dalam tahap belajar dan belum istiqomah.
2. Taalil Qur’an – Mereka yang sudah lancar dan istiqomah dalam membaca Al-Qur’an.
3. Haafidzul Qur’an – Orang yang telah menghafal Al-Qur’an dengan baik.
4. Haamilul Qur’an – Mereka yang tidak hanya menghafal, tetapi juga mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Golongan ini disebut sebagai keluarga Allah SWT di bumi, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad ﷺ,” ujar Gus Siddiq.
Selain itu, Gus Siddiq berpesan dan mengajak seluruh masyarakat untuk tetap melanjutkan kebiasaan membaca Al-Qur’an meskipun Ramadan telah berlalu. Menurutnya, membaca Al-Qur’an sebaiknya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat bulan suci saja.
“Belajar Al-Qur’an itu penting, khususnya bagi yang belum lancar membaca. Selaku Ketua Ta'mir, saya mengapresiasi keberlanjutan agenda tahunan ini sebagai sarana dakwah dan syiar Islam di lingkungan masyarakat,” ungkapnya.
“Tradisi khataman dan tasyakuran ini menjadi momen yang sangat berharga dalam mempererat tali persaudaraan antar warga, sekaligus meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an,” tutupnya.
Dengan semangat yang terus terjaga, diharapkan tradisi ini tidak hanya berlangsung di bulan Ramadan saja, tetapi juga dapat diterapkan dalam keseharian sebagai bentuk kecintaan umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an.
Masyarakat berharap semangat tadarus dan khataman Al-Qur’an ini dapat terus hidup sepanjang tahun, menjadi cahaya bagi kehidupan pribadi dan sosial, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, Masjid Baitussalam Kertosari tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan pembinaan umat menuju kehidupan yang lebih berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. (rag/bp-bwi)