Ribuan Ketupat Diarak, Tradisi "Grebeg Kupat Sewu" di Desa Singolatren Jadi Magnet Budaya Banyuwangi Ribuan Ketupat Diarak, Tradisi "Grebeg Kupat Sewu" di Desa Singolatren Jadi Magnet Budaya Banyuwangi / Kacab Semeru (06-Apr-2025)
Bratapos / Daerah

Ribuan Ketupat Diarak, Tradisi "Grebeg Kupat Sewu" di Desa Singolatren Jadi Magnet Budaya Banyuwangi

Terbit : 06-Apr-2025, 15:35 WIB // Pewarta : Kacab Semeru, Editor : Kacab Semeru // Viewers : 351 Kali

 

BANYUWANGI || Semeru.bratapos.com –Tradisi Adat Religi "Grebek Kupat Sewu" kembali digelar oleh warga Dusun Wijenan Lor, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, pada Minggu (06/04/2025) siang. Kegiatan ini, disambut antusias oleh ratusan warga setempat dari berbagai dusun dan desa sekitar.

Tradisi yang rutin digelar setiap bulan Syawal tepat di hari ketujuh lebaran ini, menjadi simbol rasa syukur masyarakat setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan dan merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Sesuai namanya, Grebeg Kupat Sewu atau “arak-arakan seribu ketupat” menampilkan ribuan ketupat yang dirangkai membentuk gunungan, sebagai simbol keberkahan dan rezeki yang berlimpah. Ketupat-ketupat tersebut, kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada warga sebagai bentuk rasa syukur dan semangat berbagi.

Rangkaian acara ini, dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, menciptakan suasana khidmat yang sarat nilai spiritual. Kemudian dilanjutkan kirab budaya keliling desa dengan membawa gunungan ketupat, diiringi seni tradisional seperti drumband, terbang, dan lantunan sholawat dari para santri dan warga. Iringan musik religi yang berpadu dengan semangat masyarakat membuat suasana semakin meriah.

Kepala Desa (Kades) Singolatren, Apandi, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menyukseskan acara ini.

“Tradisi ini adalah warisan budaya yang sarat makna. Bukan hanya simbol syukur setelah Ramadan, tetapi juga media mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan warga. Semoga kegiatan ini terus lestari dan menjadi identitas budaya yang membanggakan Desa Singolatren,” ujar Apandi.

Tidak hanya menjadi ajang spiritual dan kebudayaan, Grebeg Kupat Sewu juga dinilai memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata lokal. Pemerintah Desa Singolatren berharap, kegiatan ini dapat masuk dalam kalender event budaya resmi Kabupaten Banyuwangi, mengingat antusiasme masyarakat dan potensi ekonominya yang terus meningkat setiap tahunnya. 

"Ke depannya, Pemdes akan berupaya menggandeng Dinas Pariwisata dan stakeholder terkait untuk mempromosikan tradisi ini secara lebih luas, baik di tingkat regional maupun nasional," tegas Apandi.

Acara Grebeg Kupat Sewu 2025 ini, ditutup dengan pembagian gunungan ketupat kepada seluruh warga yang hadir. Suasana penuh suka cita dan kebersamaan mewarnai momen tersebut. Banyak warga berharap, tradisi ini dapat terus dilestarikan sebagai simbol religiusitas sekaligus kekayaan budaya lokal.

Dengan semangat gotong royong dan komitmen masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya leluhur, Grebeg Kupat Sewu tidak hanya menjadi tradisi tahunan biasa, melainkan identitas kuat yang membentuk karakter sosial dan budaya Desa Singolatren di mata publik. (rag/bp-bwi)


Pilihan Untukmu