Forum Kajur Teknik Sipil Politeknik se-Indonesia, Studi Arsitektur Lokal di Banyuwangi Forum Kajur Teknik Sipil Politeknik se-Indonesia, Studi Arsitektur Lokal di Banyuwangi / Ruslan AG (30-Oct-2024)
Bratapos / Daerah

Forum Kajur Teknik Sipil Politeknik se-Indonesia, Studi Arsitektur Lokal di Banyuwangi

Terbit : 30-Oct-2024, 23:26 WIB // Pewarta : Ruslan AG, Editor : Ruslan AG // Viewers : 172 Kali

BANYUWANGI || Semeru.bratapos.com – Kabupaten Banyuwangi selama ini dikenal sebagai daerah yang peduli dan mengangkat arsitektur lokalnya di setiap bangunan publik pemerintahan. Hal ini menjadi perhatian banyak pihak, khususnya para pemerhati bangunan. 

Salah satunya Forum Ketua Jurusan Teknik Sipil Politeknik Indonesia (FKJURSIPIL) yang datang untuk studi, bagaimana Banyuwangi bisa mengimplementasikan arsitektur lokal di setiap bangunan publiknya.

Ketua Forum Ketua Jurusan (Kajur) Teknik Sipil Politeknik se-Indonesia, Dr. Ing. Luthfi Muhammad Mauludin, mengatakan kedatangannya bersama rombongan dalam rangka untuk melihat langsung arsitektural kombinasi modern dan kearifan lokal yang ada di Banyuwangi. Mengingat selama ini Banyuwangi cukup konsisten dalam menerapkan kearifan lokal pada berbagai karya bangunannya.

Salah satu bangunan yang dikunjungi adalah Pendopo Sabha Swagata. Sebanyak 30 orang angota forum tersebut mempelajari setiap sudut pendopo Banyuwangi yang hijau dan asri.

“Kami ingin tahu banyak bagaimana Banyuwangi memadukan unsur-unsur teknik sipil didalam setiap desain bangunan yang memadukan dengan kearifan lokal. Dan yang terpenting adalah bagaimana kebijakan ini bisa diterapkan,” ujar Luthfi, pada Rabu (30/10/2024).

Selama di Pendopo, rombongan FKJURSIPIL mendapatkan penjelasan mengenai setiap sudut bagian Pendopo Banyuwangi. Bangunan utama pendopo sendiri merupakan salah satu ikon heritage daerah yang telah berusia hampir 250 tahun. Bangunan ini sempat di renovasi tanpa mengubah pondasi utamanya, dengan melibatkan arsitek nasional kenamaan, Adi Purnomo.

Mereka menikmati setiap sudut bangunan pendopo, seperti bukit hijau yang mengapit sisi belakang pendopo. Di dalam bukit itu, terdapat guest house yang terdiri atas sejumlah kamar eksklusif. Guest house ini pernah disinggahi sejumlah tamu kehormatan seperti Duta besar AS, para menteri, dan tokoh-tokoh nasional lainnya.

Selanjutnya rombongan masuk ke bangunan rumah adat yang menjadi replika rumah Suku Osing Banyuwangi. Selain itu, mereka juga melakukan cuci muka di sumur Sritanjung yang terletak paling belakang Pendopo dan dipercaya menjadi bagian dari legenda Banyuwangi.

“Pendopo ini kearifan lokalnya lebih menonjol sehinga bangunannya terasa asri, sirkulasi udara dan pencahayaannya juga lebih baik karena memadukan material unsur alam,” ucap Luhtfie.

Usai berkeliling pendopo, rombongan mendapatkan penjelasan tentang bagaimana pemkab Banyuwangi membuat kebijakan agar bangunan-bangunan publik disyaratkan wajib mengadopsi kearifan lokal. Ini berlaku tidak hanya pada bangunan milik pemerintah, namun juga yang dibangun oleh swasta.

Sejumlah bangunan milik pemkab yang menerapkan konsep ini, diantaranya Bandara Banyuwangi yang diarsiteki oleh Andra Matin. Bandara Banyuwangi cukup kental dengan nuansa arsitektur lokal, hingga pernah menyabet penghargaan arsitektur internasional bergengsi Aga Khan Award.

Sejumlah hotel dan bangunan perkantoran di Banyuwangi, juga diwajibkan mengadopsi kearifan lokal dalam desainnya baik bangunan gedung, desain eksterior maupun interiornya.

“Kami sudah datang ke berbagai daerah di Indonesia, meskipun setiap daerah memiliki keunikannya tersendiri namun di Banyuwangi ini kami merasakan keunikan yang berbeda. Salah satunya karena Banyuwangi sangat berkomitmen pada arsitektur kearifan lokalnya,” pungkas Luthfi.

Sebelumnya, rombongan tersebut telah melangsungkan kegiatan selama dua hari sejak Senin 28 Oktober 2024 dan Selasa 29 Oktober 2024 di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). (rag/bp-bwi)


Pilihan Untukmu