"Eco Bhinneka Muhamamdiyah" Gelar Workshop Biopori & Tanam Pohon di Tempat Ibadah Lintas Agama Eco Bhinneka Muhamamdiyah Regional Banyuwangi menggelar kegiatan Workshop Biopori dan tanam Pohon di 6 tempat ibadah Lintas Agama (foto: Doc.Istimewa)
Bratapos / Daerah

"Eco Bhinneka Muhamamdiyah" Gelar Workshop Biopori & Tanam Pohon di Tempat Ibadah Lintas Agama

Terbit : 08-Sep-2024, 11:13 WIB // Pewarta : Ruslan AG, Editor : Ruslan AG // Viewers : 319 Kali

BANYUWANGI || Semeru.bratapos.com – Eco Bhinneka Muhamamdiyah Regional Banyuwangi menggelar serangkaian kegiatan diantaranya Workshop Biopori dan Penanaman Pohon di enam tempat ibadah, pada Sabtu (07/09/2024). Kegiatan ini merupakan rangkaian program Eco Bhinneka di penutup tahun 2024, yang telah berlangsung selama empat tahun ini.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Banyuwangi, Anak Muda Eco Bhinneka Blambangan (Among), Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah Cabang Cluring dan Genteng. 

Manager Eco Bhinneka Regional Banyuwangi, Windarti, mengatakan tujuan kegiatan ini guna untuk menjalin silaturahmi, meningkatkan persaudaraan sesama tokoh dan pemuda lintas agama dalam rangka menjalin kerukunan antar umat beragama.

"Kami bersyukur bisa bertemu dengan para pengurus tempat ibadah disini. Tujuan kami datang, selain untuk bersilaturahmi juga akan menanamkan Biopori sekaligus menanam pohon alpukat," kata Windarti.

Di Banyuwangi, Umat Katolik dan Muhammadiyah berdampingan dan tidak pernah ada perselisihan. Muhammadiyah dan Katolik memiliki visi yang sama yaitu mencerdaskan umat. Gereja Katolik selama ini juga melakukan kegiatan ekologi pelestarian lingkungan.

"Saya menempatkan kunjungan di Gereja ini, untuk mengenalkan bahwa disini juga merintis penggunaan lahan untuk kelestarian lingkungan. Di Banyuwangi juga ada Griya Ekologi Kelir, ada tempat pertemuan dan kamping," ujar tokoh agama Katolik, Bapak Yos Sumiyatna.

"Gerakan Eco bhinneka ini sangat kami terima. Kami mewujudkan ilmu yang diterima dari Eco Bhinneka dengan beberapa kegiatan yang mulai kami rintis," imbuhnya.

Fasilitator Daerah (FD), Maydini, menjelaskan bahwa Biopori adalah salah satu solusi praktis untuk mengatasi permasalahan sampah. Pembuatan dan penggunaannya sangat mudah, bahan yang dibutuhkan diantaranya pipa sepanjang 50 cm, dengan diameter 11 cm yang sudah dilubangi pinggirnya dan tutup pipa. Tanah dilubangi sedalam 48 cm, kemudian pipa dimasukkan ke dalam tanah, Biopori sudah bisa langsung digunakan. 

Sampah basah sisa makanan dimasukkan ke dalam lubang tersebut, kemudian ditutup dengan dedaunan kering agar tidak tercampur sampah plastik, sehingga tidak menimbulkan bau. 

"Ampas Biopori bisa dipanen setelah 3 (tiga) bulan di diamkan, selanjutnya ampas tersebut bisa dijadikan sebagai pupuk organik," terang Maydini.

Penanaman pohon dan Biopori secara maraton, dilaksanakan di beberapa tempat ibadah. Diantaranya Tempat Ibadah Tri Dharma Hoo Tong Bio, Gereja Katolik Bintang Timur, Masjid At-Tanwir SMK Muhammadiyah 2, Pura Satya Mandara Giri Loka, Wihara Jaya Manggala, dan berakhir di Gereja Kristen Al Kitab Indonesia.

Menariknya, dalam pelaksanaan serangkaian Workshop Biopori dan penanaman pohon dibeberapa tempat ibadah itu, ada moment seru yakni sesi pembagian dorprize yang melibatkan warga di tempat ibadah. Pihak panitia menyediakan berbagai hadiah menarik setiap kunjungan di tempat ibadah lintas agama. (rag/bp-bwi)


Pilihan Untukmu