BANYUWANGI || Semeru.bratapos.com – Ironi tengah mewarnai wajah Kabupaten Banyuwangi. Di tengah deretan penghargaan yang diraih pemerintah daerah atas program pembangunan dan perumahan rakyat, sebuah keluarga di Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, justru hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Nur Rahman, S.E., bersama istrinya Heni Sri Widayati dan anak semata wayang mereka, Muhammad Habibi Rahman, bertahan hidup tinggal di rumah yang tidak hanya sempit, tetapi juga memprihatinkan — kamar tidur, dapur, dan kamar mandi terpaksa digabungkan dalam satu ruangan tanpa sekat. Dinding rumah penuh retakan menganga di berbagai sisi, mengancam keselamatan setiap saat.
"Setiap hari, kami harus berbagi ruang untuk tidur, memasak, bahkan mandi di tempat yang sama. Tembok sudah banyak yang retak lebar. Kami takut sewaktu-waktu rumah ini roboh," ujar Nur Rahman dengan nada pilu, pada Minggu (27/04/2025).
Sejak kehilangan pekerjaan, Nur Rahman kini berstatus pengangguran, memperburuk kondisi ekonomi keluarganya. Berdasarkan Kartu Keluarga yang diterbitkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Banyuwangi tertanggal 13 September 2021, keluarga kecil ini tercatat sebagai warga sah RT 01/RW 01, Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin.
Kondisi mengenaskan ini terasa semakin ironis di tengah gencarnya program "Bedah Rumah" yang digalakkan pemerintah daerah. Sayangnya, hingga saat ini, keluarga Nur Rahman belum tersentuh bantuan apa pun.
Kepedulian terhadap nasib keluarga ini pun, datang dari kalangan mahasiswa. Al Maarif, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Banyuwangi, menyuarakan keprihatinannya.
"Saya miris melihat kondisi Pak Nur Rahman. Ini tidak sebanding dengan sederet penghargaan yang diterima pemerintah daerah. Kami berharap Ibu Bupati turun langsung melihat kondisi ini," ungkap Al Maarif.
Masyarakat sekitar pun berharap pemerintah daerah, khususnya dinas sosial dan perumahan rakyat, segera turun tangan. Mereka menilai langkah cepat harus diambil, baik dengan memperbaiki rumah maupun melakukan relokasi demi keselamatan keluarga Nur Rahman.
Di tengah gemerlap citra dan penghargaan, suara lirih dari pelosok Tamansari ini seharusnya menjadi peringatan keras. Pembangunan sejatinya tidak hanya diukur dari sederet penghargaan, melainkan dari senyum dan keselamatan rakyat di pelosok desa. (rag/bp-bwi)